visi

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An Nahl [16]:97).



Tuesday, April 26, 2011

GHAZWUL FIKRI in Practise

Sebetulnya praktek-praktek ghazwul fikri jelas ada di depan mata kaum muslimin setiap hari dan hampir di seluruh aspek kehidupan, praktek-praktek tersebut sudah mereka lakukan. Pola-pola yang mereka gunakan sangat beragam dan semuanya dilakukan secara halus dan cantik. Sasaran mereka juga menyeluruh dari anak-anak sampai orang dewasa, dari kalangan awam sampai dengan kalangan intelektual. tujuan mereka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak lagi untuk memurtadkan ummat Islam secara status, tetapi bagaimana menjadikan karakter, pola pikir, dan sikap memusuhi Islam itu sendiri. Cara ini lebih srategis karena korban-korban tersebut secara tidak langsung tidak akan dianggap sebagai musuh Islam. inilah yang disebut pembusukan dari dalam dan sebetulnya hal ini lebih berbahaya.

Di Bidang Pendidikan

Praktek-praktek ghazwul fikri sudah sangat meluas. Bisa dijumpai saat ini di sekolah-sekolah milik mereka sangat menjamur. Dengan kelebihan dana yang mereka miliki, mereka mampu menciptakan sekolah-sekolah yang secara akademis unggul. Mereka bisa membayar guru-guru yang berkualitas, membeli sistem kurikulum yang baik, serta menyediakan lingkungan dan fasilitas yang sangat mendukung. Dalam kenyataannya, kondisi ini mampu menggiring para orang tua muslim yang kurang kuat keimanannya untuk merelakan anak-anaknya bersekolah di sana. Di dalam interaksi belajar, banyak sekali hal-hal yang secara jelas-jelas melanggar aqidah dan syariat Islam, misalnya yang pertama, kewajiban berdo'a dengan cara mereka. Yang lebih mengerikan lagi adalah fakta adanya usaha-usaha memutarbalikkan ajaran Islam. Seorang dosen pernah ngobrol dengan saya dan mengatakan bahwa Muhammad itu melarang memakan babi karena sebetulnya ia sangat gemar makan babi. Informasi seperti itu ternyata ia dapatkan sewaktu di bangku sekolah yang kebetulan milik yayasan kristen. Informasi-informasi slaha seperti itu senagaja mereka sampaikan untuk mengacaukan pemahaman ummat Islam. Yang kedua adalah program pertukaran pelajar. Beberapa tujuannya adalah meluaskan wawasan dan saling mengenal budaya lain. Tujuan tersebut seolah-olah tidak salah, tapi bukan berarti mereka punya maksud lain. Yang mereka sebut budaya itu sangat luas dan dengan kelihaiannya, mereka mampu mengemas sesuatu yang jelas tidak baik dalam bungkus budaya. Target mereka adalah kalau pelajar-pelajar tersebut tidak meniru secara fisik, paling tidak pola pikir mereka sudah berubah untuk mentolelir, menerima, mensahkan hal-hal yang jelas-jelas salah.

Yang berikutnya adalah program pengiriman mahasiswa berprestasi ke luar negeri. Keberadaan mahasiswa muslim di luar negeri merupakan kesempatan besar bagi mereka untuk lebih menggarap. Jauh dari kondisi yang Islami, interaksi yang terbatas membuat mereka berusaha sedemikian hingga untuk memfasilitasi mereka. Disinilah peluang mereka.

Ada kasus di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung yang sangat luar biasa. Seorang mahasiswa yang pada mulanya adalah muslim yang taat, tiba-tiba meninggalkan agamanya. Setelah ditelusuri, ternyata berawal dari kemampuan membaca Al Qur'an yang minim yang akhirnya menyebabkan kegagalan ujian mata kuliah agama Islam. Mahasiswa tersebut merasa sangat tertekan dan berat sampai akhirnya dia tahu bahwa ujian agama kristen sangatlah mudah. Berangkat dari keinginan untuk segera lulus, akhirnya ia nekat memutuskan ikut ujian agama kristen (pura-pura pindah agama). Tanpa disadari, setelah itu ternyata ia semakin tertarik sampai akhirnya memutuskan untuk murtad. Jadi, sampai ke masalah kurikulum mereka sangat jeli untuk menangkap peluang-peluang. Untuk mata kuliah/pelajaran tertentu, mereka memberikan kemudahan yang sangat luar biasa.

Kasus lain, di sebuah universitas Khatolik Bandung, seorang calon mahasiswi mengungkapkan bahwa karena statusnya muslimah maka ia harus menggunakan kerudung, dan jika menolak maka ia harus rela mengikuti ritual-ritual keagamaan.

PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG SOSIAL

Dalam bidang sosial, pola-pola yang mereka gunakan juga tidak kalah hebat. Hampir seluruh LSM yang mereka pegang bisa dikatakan profesional dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Mereka dengan cepat dapat menangkap problematika-problematika nyata yang ada di masyarakat kita dan selanjutnya segera memberikan solusi yang dibutuhkan. Cara mereka memang cepat menarik simpati orang banyak yang akan dibantu.

Banyak sekali kasus-kasus nyata seperti itu. Suatu contoh, pernah suatu saat kami datang di sebuah kelurahan di kota Bandung untuk memberikan santunan/beasiswa. Ternyata mereka sudah lebih dulu memberikan bantuan kepada penduduk setempat. Ini berarti gerak mereka tidak hanya cepat tetapi juga terus menerus. Berbeda dengan kita yang selama ini masih dengan sistem hit and run. Maksudnya, kebanyakan kita datang sekali dua kali kemudian langsung memberikan ceramah dan setelah itu ditinggalkan.

Pada tahun 1985-an, beberapa da'i kita datang ke pedalaman Kalimantan kepada suku-suku Dayak. Ternyata di sana sudah terbentuk sistem perkampungan yang sangat rapi. Yang tak kalah menariknya lagi, di sana ada seorang dokter dan seorang pastur yang menangani khusus masalah kesehatan dan spiritual mereka. Sekali lagi mereka jauh lebih cepat. Banyak sekali kasus serupa yang sebenarnya di sana terdapat muatan ghazwul fikri-nya.

Ada sebuah kasus lagi yang menimbulkan fenomena yang sangat menarik. Beberapa waktu yang lalu, kami mendapatkan informasi praktek sejenis di sebuah perkampungan di pinggiran kota Jakarta. Segera saja kami dengan beberapa lembaga Islam melakukan survey ke tempat itu. Kampung tersebut ternyata memang sebuah kampung kumuh yang penduduknya sebagian besar bermata pencaharian sebagai pemulung. Akan tetapi pola hidup mereka cenderung konsumtif. Akhirnya, dengan kesepakatan beberapa lembaga, kami memutuskan untuk melakukan aksi sosial dan tabligh akbar di sana untuk memulai serangkaian rencana yang lainnya. Ternyata aksi tersebut tidak mendapatkan respon yang baik dari masyarakat sekitar. Sungguh berbeda dengan yang biasanya. Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, beberapa di antara mereka kemudian berkomentar sederhana : “Ngapain capek=capek hanya sekadar untuk mendapat beras beberapa kilo gram? Tanpa keluar dari rumah saja, kami sudah mendapatkan yang kami butuhkan.” Jadi nampaklah pola gerak mereka menimbulkan dampak yang luar biasa, yaitu melemahkan etos kerja orang yang mereka bantu. Dan ini tidak dapat dipungkiri menjadi peluarng tersendiri untuk menggarap mereka.

PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG BUDAYA

Suatu sore, tidak sengaja saya melihat sebuah acara debat mahasiswa di sebuah stasiun TV. Temanya mengenai pornografi dan kekerasan terhadap perempuan. Awalnya yang mereka sampaikan normatif-normatif saja, bahwa pada intinya mereka menolak. Tetapi saat timbul pertanyaan apakah ada hubungannya antara gaya busana (terutama perempuan) dengan kekerasan, mulai timbul pro dan kontra. Yang menarik saat itu, sangat ironis ternyata peserta yang perempuanlah yang menolak. Menurutnya, tidak ada hubungan antara gaya busana dengan munculnya kekerasan. Gaya busana adalah hak azasi dan merupakan sebuah budaya. Dia mengambil contoh kasus Bali. Tidak menjadi masalah dalam artian tidak akan diganggu, perempuan-perempuan di sana berjalan-jalan dengan busana yang sangat minim. Dia meyakinkan lagi bahwa hal ini terjadi karena menurut masyarakat di sana keadaan seperti ini sudah biasa. Itulah budaya.

Paginya, sebuah artikel di sebuah harian terkenal mengupas tema yang sama. Kali ini nara sumbernya seorang laki-laki. Kesimpulannya tidak jauh beda dengan mahasiswa perempuan di atas, bahkan lebih mengagetkan. Dia menyatakan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan adalah karena ia adalah perempuan dan tidak ada hubungannya dengan gaya busana yang dikenakan sang perempuan. Benarkah faktanya demikian? Jelas kesimpulan tadi sangat menyesatkan. Sama saja dengan menyatakan bahwa perempuan hanya ditempatkan kepada konteks eksistensi biologi, tak lebih dari itu.

Apa artinya semua ini?

Itulah ghazwul fikri. Dalam bidang budaya, praktek-praktek ini tumbuh dengan subur. Obyeknya tak hanya perempuan, tetapi kalau dicermati sepertinya perempuan lebih rentan terhadap interfensi budaya. Kita lihat saja mode baju, sepatu, atau rambut. Sangat cepat dan mudah booming, kenapa demikian? Karena budaya memang sangat erat dengan nilai seni dan keindahan. Yang menjadi masalah adalah jika nilai seni dan keindahan yang diangkat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah letak jebakan itu. Bagi orang yang memang tak punya prinsip, langsung dikonsumsi. Praktek-praktek tersebut selalu dibungkus dengan kemasan yang menarik. Media adalah penyumbang nomor satu dalam menyebarkan perang pemikiran ini. Segala produk budaya jahil ditayangkan di sana secara bebas. Contoh yang jelas misalnya film Baverly Hills. Ada yang pernah menyampaikan kepada saya dalam sebuah diskusi, di sebuah episode film tersbut diceritakan seorang gadis yang sangat masih gadis, belum pernah berkencan (zina). Sangat mengerikan, pesan sesat yang mereka sampaikan betul-betul terkemas dengan rapi. Buktinya film tersebut sangat disenangi oleh anak muda.

Bagaimana dengan budaya kita (budaya timur)? Alhamdulillah memang kebanyakan budaya kita masih mengindahkan nilai-nilai moral. Tapi juga bukan berarti semuanya aman dan terbebas dari usaha ghazwul fikri. Contoh sederhananya mungkin baju adat atau baju pengantin daerah-daerah tertentu termasuk tata riasnya yang menurut Islam jelas bertentangan. Tetapi oleh sebagian kalangan tertentu produk tersebut dikatakan sebagai budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Jika masyarakat tidak peka, yang terjadi adalah sekadar mengekor dengan dalih karena budaya sendiri.

PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG TEKNOLOGI DAN INFORMASI

Disebutkan sebelumnya, bahwa media informasi merupakan penyumbang nomor satu dalam menyebarkan perang pemikiran. Salah satu metode perang pemikiran yang dilakukan adalah dengan cara pengkaburan istilah. Pengkaburan istilah ini dinilai sangat efektif sehingga akan berakhir dengan anggapan yang benar ketika sebuah istilah diungkapkan secara terus menerus. Sebagai contoh misalnya, istilah pasukan Taliban akan memiliki makna yang positif dan perjuangannya akan mendapatkan dukungan yang besar dan kuat dari umat Islam jika istilah tersebut diungkapkan dengan Mujahidin Taliban. Tapi sebaliknya, umat Islam tidak akan simpatik bahkan akan cenderung memusuhi umat Islam yang lainnya jika istilah tersebut diungkapkan dengan Talibanisme atau rezim Taliban. Dan yang terjadi saat ini adalah, media mulai mengistilahkan Mujahidin Taliban dengan Talibanisme. Bahkan beberapa media di Indonesia ada yang menyebutkan rezim Taliban. Mengapa ini terjadi?

Kejadian tersebut di atas sesungguhnya dikarenakan penguasaan musuh-musuh Islam akan teknologi informasi dan jaringannya. Ada sebuah kasus yang menarik. Beberapa saat setelah gedung WTC hancur, CNN yang mempunyai jaringan hampir di seluruh dunia dan memiliki kemampuan teknologi canggih dengan kecepatan akses yang tinggi, langsung mengekspos gambar masyarakat Arab yang bersorak sorai baik di televisi maupun di internet. Mereka hendak mengarahkan opini publik bahwa masyarakat Muslim ternyata sangat gembira atas peristiwa tersebut. Maksud dari semua itu tidak lain karena mereka ingin memperlihatkan bahwa kaum Muslimin adalah terorisnya. Selanjutnya apa yang akan terjadi? Bisa saja umat Islam tidak lagi memberikan dukungan terhadap perjuangan Umat Islam dan Islam, bahkan yang lebih buruk lagi mereka malah memusuhi Islam. Inilah yang mereka inginkan dari umat Islam. Walaupun akhirnya maksud jahat mereka terbongkar dengan terbuktinya bahwa gambar yang ditayangkan tersebut, sebenarnya rekaman kejadian yang sudah terjadi jauh sebelum peristiwa hancurnya gedung WTC. CNN sangat malu hingga sempat minta maaf atas penayangannya itu. Ada kasus yang lebih menari berkenaan dengan kasus hancurnya gedung WTC. Tidak lama setelah hancurnya gedung pencakar langit tersebut, media mereka langsung mengekspos tersangka pelaku. Pertama kali yang mereka curigai adalah seorang laki-laki keturunan Arab. Lagi-lagi mereka ingin mengarahkan bahwa pelakunya adalah Muslim. Tapi usaha mereka ternyata gagal, karena akhirnya terbukti bahwa tersangka yang mereka maksud telah meninggal dunia sebelum hancurnya gedung itu. Sebaliknya ada fakta-fakta aktual yang mereka ketahui namun kemudian mereka tutup-tutupi. Misalnya fakta tentang cuti massalnya sejumlah 4000 karyawan berkebangsaan Yahudi yang bekerja di gedung nomor empat tertinggi di dunia itu, ketika gedung tersebut hancur. Fakta ini sama sekali tidak mereka angkat, karena mereka takut rencana jahat mereka terbongkar. Penghilangan fakta ini menyebabkan banyak sekali umat Islam yang tidak tahu fakta aktual yang sesungguhnya terjadi tersebut. Jadi kalau umat Islam tidak jeli dan tidak berusaha mencari informasi pembanding, maka yang terjadi adalah seperti yang mereka harapkan, status Muslim namun berperilaku memusuhi umat Islam dan Islam.

Di sepanjang sejarah, media mereka memang terbukti tidak pernah obyektif dalam menginformasikan apapun. Dan hal itu mereka lakukan secara sengaja. Banyak lagi hal yang telah mereka lakukan untuk meragukan umat Islam terhadap umat Islam yang lain dan Islam. Hasilnya adalah, banyak sekali kesalahan yang kemudian dilakukan oleh umat Islam kepada umat Islam yang lain dan Islam sendiri. Hal ini dapat dilihat dari umat Islam dalam mensikapi hal-hal yang sidah jelas kedudukannya. Kasus Palestina misalnya, ternyata masih banyak umat Islam yang menganggap bangsa Palestina sebagai agresor, atau usaha rakyat Bosnia dan Cechnya yang dicap sebagai usaha separatis. Dan masih banyak lagi sesungguhnya kasus yang serupa. Semua ini tidak lain adalah hasilk ghazwul fikri yang mereka mainkan.

PRAKTEK GHAZWUL FIKRI DALAM BIDANG EKONOMI

Masih segar dalam ingatan kita pada tahun 1997, awal dari yang disebut orang sebagai krisis ekonomi. Peristiwa tersebut sangat mungkin tidak pernah terbayang oleh kebanyakan masyarakat. Suatu saat saya pernah mendengar pertanyaan seorang anak yang masih duduk di bangku SMP, bukankah bangsa Indonesia merupakan negara yang berkembang, kok tiba-tiba dikatakan krisis ekonomi? Pertanyaan seperti ini bisa jadi tidak hanya timbul dari seorang bocah SMP, orang-orang tua kita, teman-teman kita mungkin juga sangat bingung. Sejak saat itu biasa kita lihat atau kita dengar barang-barang kebutuhan pokok tiba-tiba menghilang dari pasar. Memburu beras, gula, susu, minyak, menjadi pekerjaan baru bagi ibu-ibu. Semua orang menjadi panik. Sampai saat ini ekonomi bangsa ini semakin terpuruk. Perrgantian tim penyelamat ekonomi yang dibentuk oleh pemerintahan selalu bubar dan berujung dengan sebuah kebingungan dan keputusasaan. Tidak heran, jika akhirnya negara kita saat ini dikatakan sebagai bangsa yang miskin. Tetapi itulah fakta, meski sangat tragis. Di sebuah negara yang sangat berlimpah dengan kekayaan alam, ternyata sebagian besar penduduknya harus hidup dalam kemiskinan. Saya masih ingat ketika belajar Geografi ketika SD dan SMP. Di mana-mana bumi Indonesia penuh dengan kekayaan alam. Ada minyak bumi, timah, tembaga, emas, dan hutan yang berlimpah. Kemanakah semua kekayaan tadi?. Suatu saat saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Kalimantan di perusahaan UNOCAL. Di sana saya melihat lima anjungan besar. Jangan ditanya berapa uang yang dapat dihasilkan dari sana, yang pasti sangat besar. Apakah masyarakat di sana hidup berkecukupan? Tidak juga, karena kekayaan alam yang luar biasa besar itu belum bisa dinikmati oleh mereka. Kita lihat di daerah lain, Irian Jaya dengan tembaganya, Aceh dengan gas Arun, atau Buton dengan timahnya. Nasib masyarakat di sana tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Apa yang terjadi?

Sebetulnya, itu merupakan salah satu dampak dari praktek Ghazwul Fikri yang mereka lakukan. Hampir tiga abad bangsa kita dijajah, tidak hanya harta benda kita yang dirampas, yang lebih menyakitkan adalah bangsa ini sengaja dirusak, diracuni mental dan psikologisnya. Bagaimana mereka secara sengaja selalu menekankan kepada bangsa kita saat itu, bahwa kelas bangsa kita adalah nomor tiga yang tidak mempunyai harga di mata mereka. Dan usaha mereka bukannya tidak berhasil. Sampai sekarang ini kita masih bisa merasakan dan melihat karakter bangsa kita yang selalu merasa rendah diri terhadap bangsa lain, selalu ingin mengekor kepada bangsa lain atau merasa gagap dan kagum terhadap setiap kemajuan yang mereka ciptakan. Bagaimana orang tua kita lebih mengabdikan kepada mereka hanya karena lebih bangga jika anak-anaknya menjadi pegawai walaupun harus berpenghasilan sangat kecil. Sampai sekarang hal-hal tersebut masih melekat di sebagian masyarakat kita. Coba kita tanyakan kepada anak-anak kita tentang cita-cita mereka. Kebanyakan dari mereka akan mengatakan ingin menjadi dokter, hakim, politisi, atau profesi yang lain. Akan sangat jarang kita mendengar mereka ingin menjadi pedagang atau pengusaha yang sukses. Tidak salah, bahkan cita-cita tersebut sangat mulia. Tapi masalahnya, bangsa ini menjadi kehilangan jiwa-jiwa, karakter-karakter yang seharusnya menggerakkan roda ekonomi yang riil.

Inilah yang terjadi sekarang. Pembangunan ekonomi yang disebut-sebut mengalami perkembangan yang cepat ternyata hanya kamuflase. Di dalamnya sangat kropos karena memang perekonomian yang dijalankan bukanlah sektor riil yang diharapkan mampu memberi topangan yang sangat kuat. Karakter bangsa kita yang sedemikian sangat rentan terseret kepada permainan ekonomi yang mereka (Amerika/Yahudi) segaja ciptakan guna keuntungan mereka sendiri.

Kita tahu sekali siapa Rasulullah. Beliau adalah figur pengusaha yang sukses. Begitu juga dengan para sahabat. Ada Abdurrahman bin auf yang tidak takut sama sekali karena harus memulai usahanya dari nol demi mengikuti hijrah Rasulullah SAW ke Madinah. Ada juga Utsman bin Affan yang lebih memilih menghibahkan perniagaannya kepada masyarakat banyak yang saat itu sangat membutuhkan dibanding mendapatkan keuntungan besar yang ditawarkan pedagang-pedagang lainnya, sehingga krisis yang saat itu hampir terjadi dapat diselesaikan dengan sangat indah.. Karakter-karakter kuat itulah yang akhirnya mampu bertahan saat menghadapi pemboikotan ekonomi oleh musyrikin saat itu. Mereka memilih hidup menderita sementara dibanding mendapatkan tawaran yang sepertinya menguntungkan tetapi sesungguhnya membawa bencana besar yang tiada berujung.***



No comments:

Post a Comment