visi

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An Nahl [16]:97).



Monday, August 22, 2011

Penggemblengan selama Ramadhan dan adanya lailatul qadar

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, dalam kesempatan yang mulia ini akan kami kemukakan tentang makna penggemblengan selama Ramadhan dan adanya lailatul qadar agar kita jangan sampai terpesona kepada kehidupan dunia. Tetapi agar mementingkan kehidupan akherat, karena akherat itu lebih baik dan lebih kekal.


Allah ta’ala memperingatkan:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (131).

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thoha [20] : 131)

Untuk menghindari pandangan hidup yang cenderung mengutamakan kehidupan dunia, Ramadhan ini diberi aneka karunia yang jurusannya adalah akherat, agar manusia ini mementingkan akherat. Dalam hadits disebutkan, Dibuka pintu Surga, ditutup pintu Neraka, dan diikatlah syetan-syetan, dan ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ». (أحمد و النسائي قال الشيخ الألباني : ( صحيح ) انظر حديث رقم : 55 في صحيح الجامع )

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya (malam lailatul qadar itu) maka dia tidak memperoleh apa-apa’ (tercegah dari mendapatkan kebaikan yang banyak).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’I dishahihkan Al-Albani).

Untuk meraih kebaikan yang banyak pada malam lailatul qadar maka perlu diisi dengan ibadah.

Cara mengisi lailatul qadar menurut Kitab “Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan” oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid disarankan sebagai berikut:

Saudaraku —semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaati-Nya— engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada isterimu dan keluargamu untuk itu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencanngkan kainnya menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari 4/233 dan Muslim 1174)

Lafal شَدَّ مِئْزَرَهُ beliau mengencanngkan kainnya artinya Menjauhi wanita (yaitu istri-istrinya) karena ibadah.

Juga dari Aisyah, (dia berkata) :

قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Artinya: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR. Muslim 1174)

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah, perlu pula mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena kalau tidak, maka akan jatuh kepada menyelsihinya. Di antara pelaksanaan mencari lailatul qadar, ada kekeliruan di kalangan Ummat Islam, diantaranya:

1. Mencari dan menyelidiki keberadaannya dan tersibukkan dengan mengintai tanda-tanda lailatul qadar, sehingga lalai beribadah ataupun berbuat taat pada malam itu.

2. Sibuk mengatur acara, menyampaikan ceramah.

3. Diantara kekeliruan mereka juga, yaitu mengkhususkan sebagian ibadah pada malam itu seperti shalat khusus lailatul qadar. Demikian menurut Syaikh Masyhur bin Hasan Salman dalam Beberapa Kekeliruan Kaum Muslimin Seputar Lailatul Qadar .﴿ من أخطاء الناس حول ليلة القدر ﴾

Ada keutamaan yang sangat tinggi, yakni malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Sehingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sungguh-sungguh beribadah pada malam-malam puluhan terakhir Ramadhan, sampai menjauhi isteri-isterinya. Kemudian Ummat Islam sebagian mengikutinya dengan benar, tetapi kadang ada yang keliru dengan mengadakan acara-acara ibadah khusus yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.

Di balik itu semua, sebenarnya Ramadhan dan lailatul qadar yang berisi khabar-khabar gembira itu adalah bagai madrasah yang mendidik Ummat Islam agar menapaki jurusan akherat dan tidak terlena pada tipuan dunia. Adanya khabar gembira tentang pintu-pintu Surga dibuka, pintu Neraka ditutup, syetan-syetan di belenggu, dan ada satu malam Ramadhan yang lebih baik daripada 1.000 bulan; itu semua adalah jurusan akherat. Agar Ummat Islam ini takut siksa adzab Neraka, dan mengharap Surganya Allah Ta’ala. Tidak terlena pada mengutamakan kehidupan dunia.

Allah Ta’ala telah memperingatkan agar Ummat Islam tidak tergiur oleh enaknya orang-orang kafir dalam menikmati dunia:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (131).

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thoha [20] : 131)

Bahkan setiap Jum’at Ummat Islam diingatkan agar tidak mementingkan jurusan dunia belaka, sehingga Imam Shalat Jum’at disunnahkan membaca Surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah. Agar dalam menjalani hidup ini bukan hanya untuk mengejar makanan, memenuhi syahwat, dan meningkatkan gengsi. Kehidupan akherat itu lebih baik dan kekal. Alloh swt telah memperingatkan dengan tegas:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16)

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. (QS. Al-A’la [87] : 16)

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la [87] : 17)

Peringatan dari Alloh SWT ini disunnahkan untuk dibaca oleh imam shalat Jum’at, maka setiap Jum’at senantiasa kita dengar imam membaca surat Al-a’la ini. Karena memang ada haditsnya:

عَنْ نُعْمَان بنِ بَشِيرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى الْعِيدَيْنِ ب (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ ) وَإِنْ وَافَقَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَرَأَهُمَا جَمِيعاً.

Dari Nu’man bin Basyir bahwa Nabi saw dalam shalat dua ‘Ied (hari raya) membaca (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ ) sabbihisma rabbikal a’la dan hal ataaka hadiitsul ghoosyiyah. Dan jika bertepatan dengan hari Jum’at maka beliau membaca kedua-duanya semua. (HR. Ahmad)

Dalam praktek sekarang, biasanya imam shalat Jum’at juga membaca dua surat itu (Al-A’la dan Al-Ghasyiyah). Ayat-ayat itu menegaskan tentang pedihnya adzab di akherat akibat kufur dan mementingkan kehidupan dunia, sebaliknya betapa ni’matnya Surga di akherat bagi yang beriman dengan beramal shalih, sholat, zakat, mensucikan jiwanya, mengingat Alloh dan sebagainya. Namun karena dari awal tujuan kebanyakan manusia sejak disekolahkannya anak-anak kita itu untuk nantinya biar mampu cari makan dan punya gengsi, maka pandangan hidup rata-rata masyarakat ini hanya tertuju pada materi, kesenangan sesaat di dunia ini. Hingga apa-apa hanya diukur dengan materi. Ukuran yang dipakai di masyarakat bukan ukuran dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi ukuran materi. Semuanya diukur dengan banyak atau sedikitnya harta. Hingga yang disebut sukses oleh masyarakat jauh berbeda dengan sukses menurut Al-Qur’an.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah. Khabar-khabar gembira Ramadhan dan praktek Nabi saw itu adalah menjuruskan ke akherat. Agar pandangan ummat ini bahwa kesuksesan yang sejati itu adalah kesuksesan akherat. Bukan dunia. Karena ukuran kesuksesan tampaknya justru manusia ini mengikuti Qarun atau bahkan Fir’aun.

Sukses menurut masyarakat, tidak jauh dari seputar: banyak harta, punya jabatan, anak-anaknya bertitel, menantunya juga kaya, bertitel, punya jabatan dan sebagainya. Semuanya serba bendawi.

Itu mirip dengan sukses menurut Qorun dan orang-orang yang sependapat dengannya:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79)

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. (QS. Al-Qashash [28] : 79)

Pandangan Qorun dan sebangsanya itu sangat tercela:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ (80) فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81) وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (82) تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ (83) مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (84) إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (85)

80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”. 81. Maka kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Alloh. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). 82. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata, “Aduhai, benarlah Alloh melapangkan rezki bagi siapa yang dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Alloh tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar dia Telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Alloh)”. (QS. Al-Qashash [28] : 80, 81, 82)

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, tidak jauh dari Qarun, Sukses menurut Fir’aun adalah sukses dalam menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaannya; salah satu wujudnya adalah mengerahkan dukun sihir, maka siapa yang menang dalam main sihir itulah yang dianggap sukses. Itu dibantah oleh Alloh swt. Alloh Ta’ala mengisahkan dalam Al-Qur’an, ungkapan Fir’aun:

فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى (64)

Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini. (QS. Thaha [20] : 64)

Tafsir As-Sa’di menjelaskan perkataan Fir’aun bahwa siapa yang beruntung pada hari ini dan lulus serta mengalahkan orang lain (dengan sihir itu) maka benar-benar orang yang beruntung lagi jaya, maka hari ini adalah hari yang menentukan untuk memiliki hari-hari sesudahnya. (Tafsir As-sa’di juz 1 halaman 508).

Demikianlah, sukses menurut Fir’aun adalah kalau mampu mengalahkan pihak lawan dengan sihir yang dihimpunnya. Dan itu menentukan hari-hari selanjutnya. Dia hanya memikir kekuasaan di dunia ini, agar dapat mengalahkan lawannya pakai cara apapun. Tidak memikir akherat, apalagi memikir dosa dari cara-cara yang dia tempuh dalam meraih kesuksesan yang ditujunya. Padahal sudah ada peringatan dari Allah Ta’ala:

إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى (74) [طه/74]

74. Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa (mujriman), maka Sesungguhnya baginya Neraka jahannam. ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup [932]. (QS. Thaha [20] : 74)

[932] maksud tidak mati ialah dia selalu merasakan azab dan maksud tidak hidup ialah hidup yang dapat dipergunakannya untuk bertaubat.

{ مُجْرِمًا } أي: مشركا، يعني: مات على الشرك (تفسير البغوي - (ج 5 / ص 286)

Lafal مُجْرِمًا mujriman dalam tafsir Al-Baghawi dijelaskan, mati dalam keadaan musyrik. (Tafsir Al-Baghawi 5/286).

Selanjutnya, Sukses menurut Alloh swt adalah sebagai berikut:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,


2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,


3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,


4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat,


5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,


6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki [budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir); maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.


7. Barangsiapa mencari yang di balik itu [Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya], maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.


8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

9. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.


10. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,


11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.


Sukses atau keberuntungan menurut Allah Ta’ala dalam ayat-ayat itu adalah perbuatan-perbuatan orang mu’min yang sangat menjaga aturan-aturan Allah Ta’ala dan menghindari larangan-laranganNya, ikhlas untuk Allah, mengikuti Rasulullah saw, hingga akhirnya meraih Surga untuk selama-lamanya.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, adanya khabar gembira bahwa dalam Ramadhan pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, ada malam qadar yang nilainya lebih dari seribu bulan, dan syetan-syetan pun dibelenggu; itu semua agar manusia mengambil jurusan akherat, yaitu mengambil elajarn bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai mencontohi dengan menjauhi isteri-isterinya untuk lebih sungguh-sungguh dalam ibadah itu agar pandangan hidup ini tertuju untuk sukses di akherat. Hingga menjadi orang yang sukses di akherat. Karena Surga di akherat itu jauh lebih baik dan lebih kekal. Juga agar takut siksa Neraka di akherat. Karena siksanya itu sangat pedih.

Ketika Ummat Islam ini telah dididik dalam madrasah khusus Ramadhan yang jurusannya adalah akherat, maka bagi yang sukses dalam pendidikan itu akan menjadi orang-orang yang pandangan hidupnya adalah untuk akherat, hingga takut kepada maqam Tuhannya dan menahan hawa nafsunya, hingga balasannya adalah Surga.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى [النازعات/40، 41]

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, 41. maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi’at [79] : 40, 41)

Sebaliknya, bagi yang tetap melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka diancam Neraka:

فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآَثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى [النازعات/37-39]

37. Adapun orang yang melampaui batas, 38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, 39. maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi’at [79] : 37-39)

Semoga Ramadhan dengan malam lailatul qadar yang telah Allah sediakan untuk Ummat Islam ini benar-benar merupakan madrasah yang menjuruskan pandangan hidup kita kepada akherat, bukan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Sehingga menjadi orang yang sukses sebagaimana dijanjikan oleh Allah Ta’ala, bukan sukses model Fir’aun atau Qarun yang hanya mementingkan kekuasaan di dunia atau harta di dunia belaka dengan menghalalkan segala cara.

Contoh-contoh sudah nyata, dan kita tinggal memilihnya. Dan yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jurusan akherat, hingga di puluhan akhir Ramadhan beliau lebih gigih mendekatkan diri kepada Allah, sampai tidak mendekati isteri-isterinya, demi meraih yang lebih baik dan lebih berharga yakni kehidupan di akherat kelak.

Semoga kita dapat menyelesaikan Ramadhan dengan mengubah pandangan hidup kita menjadi benar, lebih mengutamakan akherat daripada kehidupan dunia. Bukan sebaliknya. Amin ya Rabbal ‘alamien.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْوَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}

ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.



No comments:

Post a Comment