visi

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An Nahl [16]:97).



Monday, May 24, 2010

Jalan Menuju Kesesatan

Jalan Menuju Kesesatan


Oleh Drs. Ahmad Yani, Ketua LPPD Khairu Ummah

Dalam kehidupan umat manusia sepanjang sejarah hingga hari ini dan bisa jadi sampai kiamat nanti, ada saja orang-orang yang menempuh jalan yang tidak benar, mereka memilih kesesatan daripada petunjuk Allah swt, bahkan mereka menukar petunjuk dengan kesesatan.

Orang seperti ini akan merasakan akibatnya cepat atau lambat, Allah swt berfirman: Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur'an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan (QS 6 : 4-5)

. Dari ayat di atas, dapat kita pahami bahwa orang-orang yang menempuh jalan kesesatan menunjukkan tiga sikap yang negatif terhadap Al-Qur’an.

1. Enggan Dan Berpaling.

Setiap muslim diwajibkan untuk menyampaikan dan mendakwahkan Islam kepada orang lain meskipun hanya satu ayat. Karena itu, ayat-ayat Allah disampaikan oleh berbagai pihak dari kaum muslimin sehingga hal ini menjadi salah satu faktor kelestarian ayat-ayat Al-Qur’an, namun orang-orang yang lebih cenderung kepada kesesatan tidak mau mendengar dan menerima ayat itu.

Ibarat makanan yang lezat, meskipun sebenarnya mereka dalam keadaan lapar ternyata mereka tidak berselera untuk mengambil apalagi menyantapnya, bahkan mereka sampai berpaling, seperti menghadapi makanan yang menjijikkan. Yang lebih memprihatinkan lagi, diantara mereka ada yang tetap bersikukuh dengan petunjuk dari nenek moyang mereka, meskipun nenek moyang mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa, Allah swt menginformasikan kepada kita dalam firman-Nya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS 2:170).

Keengganan mereka membuat mereka tetap saja berpaling dan tidak mau menerima wahyu, mereka bersikukuh untuk mengikuti nenek moyang mereka meskipun syaitan telah menyesatkannya, Allah swt berfirman: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS 31:21).

Manusia tidak mau menerima petunjuk yang datang dari Allah swt disebabkan hati mereka yang sudah terkunci rapat, ibarat ruangan yang tertutup rapat sehingga tidak bisa dimasuki oleh angin yang berhembus sejuk dari luar, ini membuat ruang hatinya menjadi sumpek kecuali bila mereka mau membukanya lagi meskipun sedikit, Allah swt berfirman: Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS 2:6-7).

Disamping itu, manusia tidak mau menerima ayat-ayat Allah juga karena hati mereka terserang penyakit yang sangat parah, bagaikan orang yang menderita penyakit jasmani yang tidak berselera untuk makan meskipun yang dihidangkannya amat lezat, Allah swt berfirman: Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS 2:10).

2. Mendustakan

Sesudah enggan dan berpaling, orang yang menempuh jalan sesat mendustakan kebenaran yang terdapat di dalam ayat-ayat Allah swt, karena itu mereka berusaha memut abalikkan Al-Qur’an sehingga orang-orang yang jauh dari Al-Qur’an menjadi tertipu, mereka mengungkapkan sesuatu yang bukan Al-Qur’an dengan mengatakan ini Al-Qur’an atau menyimpangkan maksud ayat Al-Qur’an menurut hawa nafsu mereka, mereka sendiri tahu bahwa ini bukan dari Allah swt sebagaimana Allah swt berfirman: Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui (QS 3:78).

Akibat dari sikap dan tindakanya itu, maka mereka melakukan kebathilan atau kemunkaran dan mereka merasa benar, bahkan menyombongkan diri karena merasa benar dan ini membuat semakin banyak dosa atau kemasiatan yang mereka lakukan yang membuat mereka semakin sulit bahkan tidak mungkin untuk bisa masuk ke dalam surga, Allah swt berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS 7:40).

Meskipun sudah pasti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah masuk ke dalam neraka, tapi tetap saja mereka merasa heran bisa dimasukkan ke tempat yang menyengsarakan itu, apalagi mereka semua dalam keadaan bermata buta, hal ini dinyatakan dalam firman Allah swt: Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?". Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". (QS 20:124-126)

3. Menolak dan Mengolok-Olok.

Tahap yang sangat berat dan membuat manusia semakin sesat dalam hidupnya adalah ketika ia tidak hanya berpaling dan mendustakan ayat-ayat Allah, tapi juga menolak atau mengingkari dan mengolok-oloknya, ini merupakan upaya aktif yang mereka lakukan dan bisa jadi merekapun melibatkan orang lain sehingga mereka tidak mau sesat sendirian, Allah swt berfirman: Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam, (QS 4:140).

Sebagai orang yang memiliki komitmen kepada Al-Qur’an dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendakwahkannya kepada orang lain, menghadapi orang yang sesat dengan sikapnya yang amat buruk kepada ayat-ayat Allah swt kadangkala membuat kita menjadi amat kecewa, namun Allah swt sendiri mengingatkan bahwa tugas kita adalah mendakwahkan, diterima atau tidak itu urusan mereka, karenanya Nabi Muhammad saw diingatkan dalam firman-Nya: Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu (QS 11:12).

Akhirnya, meskipun banyak orang yang tidak suka, menentang dan mendustakan ayat-ayat Allah swt, tapi tetap ada saja orang yang mengimani, berusaha memahami hingga mengamalkannya dan orang semacam ini semakin lama semakin banyak, lamban tapi pasti sehingga orang-orang kafir sangat khawatir dengan perkembangan Islam yang sedemikian pesat.



Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id





No comments:

Post a Comment