visi

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An Nahl [16]:97).



Tuesday, May 11, 2010

Ingin Bisa Khutbah dan Ceramah


Ingin Bisa Khutbah dan Ceramah

11/4/2008 | 04 Rabiuts Tsani 1429 H | Hits: 20.245
Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc
Kirim Print
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz, alhamdulillah, saya aktif berdakwah di kampus dan sekolah. Biasanya di kegiatan kerohanian Islam. Banyak yang bisa saya perbuat: merekrut kader, membina, dan mengarahkan rekan-rekan aktivis untuk melakukan terobosan program baru.
Namun, ada satu masalah yang hingga saat ini kerap mengganggu pikiran saya. Saya merasa tidak mampu mengisi tabligh atau forum-forum dakwah yang bersifat massal. Sudah beberapa kali saya memberanikan diri khutbah Jum’at dan ceramah di masjid. Tapi, kurang memuaskan. Banyak peserta yang kecewa dengan penampilan saya. Akhirnya, saya putuskan untuk tidak menerima undangan ceramah, khutbah, dan sejenisnya.
Benarkah keputusan saya itu? Tapi, hati kecil saya mengatakan saya ingin sekali bisa berkhutbah dan berceramah. Bagaimana ini, Ustadz?
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ahmad Khairul, Bekasi.
Jawaban:
Wa’alaikumussalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara Ahmad Khairul yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala dan para pengunjung dakwatuna.com di mana saja Anda berada, semoga Anda semua senantiasa mendapatkan bimbingan, hidayah, dan taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala, juga senantiasa dalam keadaan iman, Islam, dan ihsan yang terus terjaga dan meningkat dari waktu ke waktu. Amin.
Terlebih dari itu, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menghimpun kita semua dalam barisan ad-da’wah ilaLlah, menyeru dan mengajak manusia untuk kembali ke jalan-Nya. Amin.
Saudara Ahmad Khairul, dari masalah yang Antum hadapi, saya menyimpulkan ada dua hal yang perlu kita bahas, yaitu:
  1. Pertama, masalah syumuliyatul ‘amal ad-da’awi wa takamuliyatuhu (kemenyeluruhan dan sinergitas kerja dakwah), dan
  2. Kedua, masalah tanmiyatul qudurat adz-dzatiyah lid-da’iyah (pengembangan kemampuan-kemampuan diri bagi seorang dai)
Masalah Pertama
Saudaraku, dakwah yang kita maksud di sini adalah mendakwahkan Islam atau menyerukan agama Islam kepada seluruh umat manusia, agar agama yang diridhai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala menjadi jalan hidup mereka dan mereka tidak meninggal kecuali dalam keadaan muslim.
Agama Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh, mencakup segala segi dan sisi kehidupan), dan juga mutakamil (antara satu segi dan satu sisi dengan segi dan sisi lainnya saling menyempurnakan, saling melengkapi dan membentuk sinergi).
Karena itulah, dakwah Islam juga bersifat syamilah (menyeluruh dan mencakup segala segi dan sisi kehidupan) dan mutakamilah (saling melengkapi, saling menyempurnakan dan membentuk sinergitas).
Dakwah yang syamilah dan mutakamilah ini menuntut:
• Adanya amal (kerja) yang syamil dan mutakamil.
• Adanya potensi, kemampuan, dan jerih payah yang syamil dan mutakamil pula.
Oleh karena itu, wahai saudaraku, kemampuan, potensi, dukungan dan jerih payah apa saja yang dimiliki oleh umat Islam ini, bisa dan harus disumbangkan untuk dakwah, sesuai dengan daya dukung masing-masing. Yang memiliki kemampuan rekruiting, silahkan menyumbangkan kemampuannya untuk merekrut. Yang memiliki kemampuan membina, pergunakanlah kemampuannya itu untuk membina.
Dan Anda, saudaraku Ahmad Khairul, perlu bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Anda mempunyai kemampuan merekrut, membina, dan mengarahkan. Maksimalkan kemampuan ini agar semakin produktif lagi sehingga prestasi amal shalih Anda di sisi Allah subhanahu wa ta’ala akan semakin besar, banyak dan semakin baik. Semoga amal-amal Anda yang seperti itu menjadi pemberat amal kebaikan Anda di akhirat nanti.
Masalah Kedua
Saudara Ahmad Khairul dan pengunjung dakwatuna.com yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala di mana pun Anda berada, sebagai makhluq yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan ta’lim (Q.S. Al-‘Alaq: 3-5), tentunya kita tidak ingin berhenti pada garis kemampuan yang sekarang kita miliki semata.
Seorang bayi tidak pernah berhenti dari belajar dan berlatih. Dan setelah dia mampu merangkak, berjalan, berlari, naik sepeda dan semacamnya, ia tidak akan puas lalu berhenti dari belajar dan berlatih. Ia akan menjadi manusia yang terus belajar dan berlatih. Ia akan terus berusaha untuk memiliki berbagai kemampuan lain yang belum dimilikinya.
Seorang dai, secara kauni seperti umumnya manusia lainnya, ia akan terus belajar dan berlatih. Dan secara syar’i, ia memang diwajibkan (bahkan dalam bahasa hadits: di-fardhu-kan) untuk menuntut ilmu, ilmu syar’i, ilmu kaun (alam), ilmu madani-hadhari (kemajuan-peradaban) dan pengembangan potensi.
Oleh karena itu, kalau selama ini Anda berkeinginan untuk bisa berceramah secara massal, berkhuthbah dan semacamnya, keinginan seperti ini adalah wajar dan bahkan Anda diperintahkan untuk mempelajarinya. Dan jika Anda telah mempelajarinya, berusaha secara maksimal, dan sampai wafat Antum tetap belum menguasainya, maka tanggung jawab Anda untuk belajar hal ini sudah terpenuhi, insya Allah dan insya Allah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan meminta pertanggungjawaban dari Anda: kenapa Anda tidak bisa?
Karenanya, teruslah Anda berusaha dan belajar. Sebelum Allah subhanahu wa ta’ala memanggil Anda, jangan pernah berhenti dari berusaha dan belajar.
Hal itu berlaku bukan sebatas pada kemampuan berceramah massal dan berkhuthbah semata, akantetapi berlaku pada segala macam ilmu yang di-fardhu-kan dan dituntut dari kita untuk kita pelajari, baik ilmu syar’i, kauni, madani-hadhari dan pengembangan potensi.
Saya menyarankan kepada Anda, wahai saudaraku Ahmad Khairul, belajarlah mulai dari yang kecil dan sederhana. Misalnya, menyampaikan taushiyah (pesan) atau mau’izhah di hadapan teman-teman Anda, bisa 2 orang, 3 orang atau 5 orang dalam tempo 2-3 menit. Lalu, secara gradual, periodik dan terus menerus Anda melakukan peningkatan. Baik dari sisi tempo waktu yang Anda sampaikan, maupun dari sisi jumlah pendengar yang mengikuti taushiyah atau mau’izhah Anda itu.
Anda juga bisa memulai dengan cara membaca teks yang telah terlebih dahulu Anda persiapkan. Catatlah segala hal yang ingin Anda sampaikan. Dan saat berbicara, Anda tinggal membaca teksnya saja. Insya Allah, secara perlahan dan sedikit demi sedikit Anda akan menjadi terbiasa untuk tidak melihat teks. Kalau suatu saat diminta berbicara secara mendadak, insya Allah akan bisa walaupun untuk pertama kalinya memang masih terasa berat dan menegangkan. Jika Anda mengalami kegagalan, janganlah merasa berkecil hati. Tetaplah belajar dan berlatih. Jangan lupa berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semoga Antum menjadi penyebab bagi terbukanya hati para pendengar, atau sebagiannya untuk menerima hidayah Allah subhanahu wa ta’ala.
Di samping hal-hal yang sifatnya teknis dan skill melalui belajar dan latihan, yang lebih penting untuk Anda perhatikan adalah masalah hubungan Anda dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Perbaikilah. Jaga kebersihan hati (tazkiyatun-nafs), khususnya yang terkait dengan ikhlash dan shidiq: Sebab, apa yang keluar dari hati yang ikhlash dan shidiq akan masuk dan diterima oleh hati para pendengarnya dan akan memberikan pengaruhnya di sana. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita semua sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang bertakwa. Amin.

No comments:

Post a Comment