Berjuanglah utk Islam walau Anda pelaku maksiat
oleh Farid Nu'man
Saudaraku …
Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri? Begitu banyakkah dosa dan
noda? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki
kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang
mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik…
Saudaraku …
Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal
demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu?
Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas
berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu
semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka
menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan
menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan
dosa-dosanya sebagai alasan.
Saudaraku …
Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)
Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- telah bersabda:
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan
menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad
No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al
Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530,
Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya:
“Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz
DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan
Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)
Saudaraku …
Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini
pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya.
Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al
Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad
Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya
melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang
fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap
agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah
tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil
pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad,
bukan lagi orang fajir yang berjihad.
Saudaraku … Ada Abu Mihjan!!
Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis
dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam
Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits,
Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al
‘Ilmiyah)
Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit
menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild)
padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu
Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki
yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika
tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.
Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi
Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah
Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil
gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh
musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum
khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash
menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.
Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para
mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan
pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali
dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui
oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba
melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut
berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka,
tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin
pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya-
Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para
mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan
juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan
kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat
memang itulah yang dia cita-citakan.
Abu Mihjan berangkat ke
medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang
mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah
berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring
karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku
tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu
pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa,
maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”
Sa’ad bin Abi Waqash
bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi
sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada
Abu Mihjan.
Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang
gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol
kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu
mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:
لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا
Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan
menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr
selamanya!”
Saudaraku ….
Sangat sulit bagi kita
mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat
nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih
bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki
ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan
nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam
deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia
syahadah kepada kita. Amin.
Wallahu A’lam.
visi
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An Nahl [16]:97).
Wednesday, February 26, 2014
Berbuat Baik thd Orang lain, Melapangkan Dada ...
Berbuat Baik thd Orang lain, Melapangkan Dada ...
'Aidh al-Qarni
Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.
Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya Anda akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati. Sedekahilah orang yang papa, tolonglah orang-orang yang terzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang terkena musibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan Anda!
Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih.
Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi, "... meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri." (Al-Hadits)
Sedang kemuraman wajah merupakan tanda permusuhan sengit terhadap orang lain yang hanya diketahui terjadinya oleh Sang Maha Gaib.
Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong, dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna, dan juga hakekatnya.
{Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.}
___
*dari buku Laa Tahzan
'Aidh al-Qarni
Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.
Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya Anda akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati. Sedekahilah orang yang papa, tolonglah orang-orang yang terzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang terkena musibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan Anda!
Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih.
Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi, "... meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri." (Al-Hadits)
Sedang kemuraman wajah merupakan tanda permusuhan sengit terhadap orang lain yang hanya diketahui terjadinya oleh Sang Maha Gaib.
Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong, dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna, dan juga hakekatnya.
{Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.}
___
*dari buku Laa Tahzan
Bersama Kesulitan ada Kemudahan
Bersama Kesulitan ada Kemudahan
'Aidh al-Qarni
Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah begadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan datang petunjuk, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang.
{Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya.} (QS. Al-Maidah: 52)
Sampaikan kabar gembira kepada malam hari bahwa sang fajar pasti datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Kabarkan juga kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa, pertolongan akan datang secepat kelebatan cahaya-dan kedipan mata. Kabarkan juga kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba.
Saat Anda melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan.
Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa, tali itu akan segera putus.
Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.
Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu, karena pertolongan Ilahi membuka "jendela" seraya berkata:
{Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.}
(QS. Al-Anbiya': 69)
Lautan luas tak kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (Musa a.s). Itu, tak lain karena suara agung kala itu telah bertitah,
{Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya, Rabb-ku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.} (QS. Asy-Syu'ara:: 62)
Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi Muhammad s.a.w. yang ma'shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga, rasa aman, tenteram dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar.
Mereka yang terpaku pada waktu yang terbatas dan pada kondisi yang (mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka. Padahal, mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumahnya.
Maka dari itu, jangan pernah merasa terhimpit sejengkalpun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang gaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua. Tetapi sesungguhnya, setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.*
*Laa Tahzan
'Aidh al-Qarni
Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah begadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan datang petunjuk, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang.
{Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya.} (QS. Al-Maidah: 52)
Sampaikan kabar gembira kepada malam hari bahwa sang fajar pasti datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Kabarkan juga kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa, pertolongan akan datang secepat kelebatan cahaya-dan kedipan mata. Kabarkan juga kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba.
Saat Anda melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan.
Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa, tali itu akan segera putus.
Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.
Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu, karena pertolongan Ilahi membuka "jendela" seraya berkata:
{Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.}
(QS. Al-Anbiya': 69)
Lautan luas tak kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (Musa a.s). Itu, tak lain karena suara agung kala itu telah bertitah,
{Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya, Rabb-ku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.} (QS. Asy-Syu'ara:: 62)
Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi Muhammad s.a.w. yang ma'shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga, rasa aman, tenteram dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar.
Mereka yang terpaku pada waktu yang terbatas dan pada kondisi yang (mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka. Padahal, mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumahnya.
Maka dari itu, jangan pernah merasa terhimpit sejengkalpun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang gaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua. Tetapi sesungguhnya, setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.*
*Laa Tahzan
Subscribe to:
Posts (Atom)