visi

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An Nahl [16]:97).



Friday, October 31, 2014

DUNIA DIBAGIKAN KPD SELURUH MAKHLUQ ...


SIfat Ar Rahman dari Alloh menjadikan dunia ini diberikan kpd siapa saja ... baik itu taat ataupun maksiat, muslim ataupun kafir, beriman ataupun musyrik, 'Alim ataupun Jahil, Beradab ataupun tidak. Sehingga Dunia ini (Harta, Tahta, Jabatan dan segala kemewahan dunia) tidak menjadi ukuran kemuliaan seseorang dan tidak menjadi jaminan kebahagiaan seseorang ...

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Dzat yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)

Oleh karenanya ... janganlah terpukau dgn Dunia yg dimiliki oleh orang2 yg tidak beriman,

196. Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak [Yakni: kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan mereka ] di dalam negeri. 197. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (Ali Imran 196-197)

Lalu ... kalo ingin kelola dunia ... kejarlah yg memiliki keberkahan yg banyak ...

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al A'raaf 96)

Jadi bukan terletak pada dunianya ... tetapi adakah keberkahan dari dunia yg ditetapkan keberadaannya pd diri2 kita ini ...

Wallahu A'lam

JANGAN BERHARAP KEADILAN YG SEMPURNA DI DUNIA



 “Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Banyak orang yg  sering kecewa dalam kehidupan di dunia ini ... salah satu sebabnya adalah karena mereka berharap akan memperoleh keadilan ketika hidup di dunia ini ...

- Rakyat berharap terlalu banyak kpd keadilan pemimpin
- Istri berharap kpd keadilan suami
- Anak berharap kpd keadilan orang tua
- Bawahan berharap kpd keadilan atasan
- Karyawan berharap kpd keadilan majikan
- Warga berharap kpd keadilan para penegak hukum

Ketika kita berharap terlalu banyak kpd makhluq agar mereka memberikan keadilan ... itulah sumber permasalahannya. Krn yg Maha Adil adalah Alloh SWT.

Justru yg perlu dilakukan sekarang bagaimana agar setiap diri ini dapat berbuat ADIL ... krn Adil akan membawa atau lebih dekat kpd Ketaqwaan kpd Alloh SWT.

Jadi STOP berharap terlalu banyak utk diperlakukan adil ketika hidup di dunia yg sebentar dan fana ini .. Krn sempurnanya keadilan atas diri ini ... akan diberikan oleh Alloh di hari akhir nanti .. "Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat.."

Tetapi terus berusahalah utk berlaku ADIL di dalam setiap tindakan kita ..

Wallahu A'lam

Friday, October 24, 2014

Realita Kebebasan PERS

Realita Kebebasan Pers

Kalau kita lihat kenyataan, kebebasan pers begitu kebablasan. Kenyataan yang terjadi pada berbagai media:
1- Menyebarkan berita bohong yang penting menarik pembaca tidaklah masalah.
2- Membuat berita ghibah dan fitnah.
3- Memutilasi berita, cuma sepenggal berita saja yang dinukil sehingga mengelabui orang lain.
4- Melakukan namimah, seringnya mengadu domba.
5- Bukan hanya media liberal dan sekuler, media Islam pun tidak kroscek ulang saat memuat suatu berita apakah sumbernya sudah valid ataukah belum.
Kebebasan pers macam apa ini?

Memuat Berita Bohong

Ini bukan satu dua kali kita lihat berita bohong dan HOAX, bahkan sering kita temukan apalagi di masa-masa kampanye Pilpres kemarin.
Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dijelaskan mengenai bahasa berdusta dan berbohong. Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607).
Jika ingin selamat dari neraka, hindarilah memuat berita bohong.
Berbohong pun termasuk sifat munafik sebagaimana disebutkan dalam hadits,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59).
Di antara bentuk berbohong di media adalah memutilasi berita sehingga mengelabui orang lain ketika membaca berita. Padahal sepertinya kalimatnya panjang, namun diambil potongan-potongan tertentu sesuai dengan hawa nafsu pembuat berita. Ini namanya tidak jujur dalam pemberitaan.

Menyebar Berita Fitnah dan Ghibah

Ghibah adalah membicarakan aib orang lain di saat ia tidak mengetahuinya atau di saat ia tidak hadir, walaupun aib tersebut benar adanya. Sedangkan fitnah adalah membicarakan aib orang lain yang tidak benar ada padanya. Kelakuan media saat ini melakukan pelanggaran ghibah dan fitnah. Ghibah dan fitnah ini sering dilakukan oleh media bahkan kadang menjadi headline utama.
Dalam hadits disebutkan,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim no. 2589).
Adapun dosa ghibah dijelaskan dalam ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)
Kata Ibnu Katsir ketika menjelaskan tafsir ayat di atas, “Ghibah diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama). Dan tidak ada pengecualian dalam hal ini kecuali jika benar-benar jelas maslahatnya.”
Bahkan mengorek terus aib seorang muslim akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat kelak. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair.

Media Sering Melakukan Namimah (Mengadu Domba)

Itulah media, kalau tidak mengadu domba satu pihak dan pihak lainnya, beritanya jadi kurang menarik, oplahnya jadi turun. Padahal mengadu domba inilah sebab adanya siksa kubur.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati salah satu sudut kota Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang diazab di kubur. Beliau pun bersabda,
يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Mereka berdua disiksa. Mereka menganggap bahwa itu bukan perkara besar, namun sesungguhnya itu perkara besar. Orang yang pertama disiksa karena tidak menutupi diri ketika kencing. Adapun orang yang kedua disiksa karena suka mengadu domba.” (HR. Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292).
Imam Nawawi berkata, “Namimah adalah menukil perkataan orang lain dengan tujuan untuk membuat kerusakan. Namimah inilah sejelek-jelek perbuatan.” (Lihat Fathul Bari, 1: 319).

Tidak Melakukan Tabayyun (Kroscek) Terhadap Suatu Berita

Sudah ma’ruf seperti itu bahkan media Islam pun demikian. Asal nukil saja berita bahkan berita dari orang kafir lebih dipercaya dari seorang muslim. Pokoknya kalau berita tersebut sudah bisa menyudutkan lawannya, maka berita dari orang kafir pun dinukil. Padahal Allah perintahkan kepada kita untuk bertabayyun (melakukan kroscek).
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).
Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.”
Berita dari orang kafir jelas dari orang yang fasik. Lantas kenapa bisa lebih dipercaya?
Hanya Allah yang memberi taufik.
—
Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 7 Syawal 1435 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id