visi

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An Nahl [16]:97).



Tuesday, June 1, 2010

BEKERJA KERASLAH

BEKERJA KERASLAH


Islam itu agama aksi, agama kerja. Agama gerak. Agama yang menekankan aktivitas dan mencegah pasivitas. Agama Islam adalah agama yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa bergerak dan senantiasa bergerak.

Saya teringat perkataan Ismail Raji Al-Faruqi, muslim Palestina yang dibunuh oleh orang Yahudi di Amerika, yang mengatakan ,”Islam is a religion of Action” Islam adalah agama aksi. Kata-kata ini sering kali menghentak saya tatkala muncul dalam diri saya sebuah kemalasan, kejenuhan dan kepasifan. Kata-kata ini sering memecut saya untuk bekerja sekuat tenaga agar bisa memenuhi tugas kehambaan, kekhalifahan dan keumatan saya.

Ya, Islam itu agama aksi, agama kerja. Agama gerak. Agama yang menekankan aktivitas dan mencegah pasivitas. Agama Islam adalah agama yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa bergerak dan senantiasa bergerak. Beraksi dan senantiasa beraksi.

Rasulullah sering mengulang-ulang sabdanya yang mengatakan bahwa “tangan yang di atas jauh lebih baik dari tangan yang di bawah” sebuah perlambang yang menandakan bahwa orang-orang yang memberikan hartanya pada orang yang membutuhkan jauh lebih baik daripada orang yang menerima pemberian itu. Tentu saja harta yang diberikan itu berasal dari tangan yang bekerja dan otak yang aktif beraksi..

Rasulullah menunjukkan apresiasinya yang sangat tinggi pada kerja keras ini dalam berbagai kesempatan. Beliau pernah mengatakan, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Thabrani : Seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikul di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada ia meminta-memita kepada seseorang yang kadang diberi dan kadang ditolak.

Apa yang terkandung dalam sabda Rasulullah tadi adalah bahwa sebaik-baik manusia adalah seseorang yang memeras keringatnya dan menguras tenaganya demi menjaga harga dirinya, demi menyelamatkan mukanya di depan manusia agar dia tidak meminta-minta yang berarti telah menjual dirinya. Menjual harkat dan martabatnya di depan manusia dan dia akan kehilangan muka di hadapan Allah karena telah dijual di dunia. Rasulullah mendorong dan menginginkan agar umat ini menjadi umat pekerja, umat mandiri, umat yang tidak menggantungkan diri pada orang lain, lain dan bangsa lain. Umat yang mampu berdiri di atas kreasinya sendiri, di atas kemampuannya sendiri. Melalui kucuran keringat dan gejolak semangat.

Sabda Rasulullah berikut ini memperkuat penegasan bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai kerja keras : Bila seorang muslim menaburkan benih atau menanam tananam lalu ada burung atau manusia atau binatang yang memakan sebagian darinya niscaya hal itu akan dinilai sebagai sedekah (HR. Bukhari).

Kembali Rasulullah menekankan bahwa tangan seorang muslim adalah tangan kreatif, tangan produktif yang senantiasa menghasilkan sesuatu untuk bisa dinikmati oleh manusia, binatang dan makhluk lainnya. Seorang muslim diidealkan menjadi orang yang mengalirkan “hidup” bagi siapa yang membutuhkan, yang memberikan cahaya kehidupan bagi mereka yang tersendat kesulitan. Seorang muslim diharapkan menjadi sosok yang mampu menghidupan gairah kehidupan seseorang, yang mampu menjadikan hidup lebih hidup dan bergairah, lebih semangat dan bermakna, lebih aktif dan sumringah.

Kamus seorang muslim telah kehilangan kosa kata “leha-leha” karena memang telah dengan sengaja dia hapus dari dalamnya. Ensiklopedi seorang muslim tidak memiliki kosa kata pengangguran karena memang ia tidak lagi dibutuhkan.

Seorang muslim menyadari sepenuhnya bahwa dirinya akan bermakna, berharga dan bermartabat jika dari dirinya mengalir karya-karya, jika dari otaknya mengalir ide-ide. Dia tidak akan pernah merasa nyaman untuk menjadi manusia lemah, manusia loyo. Sebab sikap lemah dan loyo tidak selevel dengan identitas keislamannya. Dia tidak pernah membiarkan waktunya lewat dengan leha-leha. Sebab leha-leha dan bermalas-malas, puas dengan kebodohan, rela dengan kehinaan, tidak bangkit untuk mencapai nilai-nilai mulia, semua adalah bibit-bibit ganas penghancur semangat, kehinaan jiwa, kebekuan emosi. Ini merupakan hubungan nasab yang bergabung dengan bibit lainnya yang masih sesusuan menyia-nyiakan waktu, berpencar-pencarnya semua semangat dan bercerai-cerainya perhatian.

Seorang mukmin akan senantiasa mengisi detik-detiknya, menit-menit dan jam-jamnya dengan kerja-kerja yang bermanfaat, dengan amal-amal saleh yang menembus gelap. Dia sadar bahwa kerjalah yang mengantarkan umat Islam mampu mencapai kemuliaan. Kerjalah yang mengantarkan umat Islam mampu membangun peradaban, kerjalah yang membuat umat Islam mampu melahirkan para pahlawan, kerjalah yang membuat umat Islam mampu melahirkan para ilmuwan. Sejarah keemasan bangsa-bangsa manapun pasti dibarengi dengan anak-anaknya yang suka bekerja. Mereka membangun martabat, bangsa, budaya, peradaban dan kemanusiannya dengan kerja keras, banting tulang dan putar otak.

Kita dapatkan sebuah perintah tegas Allah dalam Al-Quran agar Rasulullah memerintahkan umatnya untuk bekerja keras karena kerja-kerja mereka akan dilihat oleh Allah dan akan dilihat oleh Rasulullah dan kaum mukminin :

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٠٥﴾

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (At-Taubah : 105).

Tak ada pilihan lain bagi kita agar kita agar bisa eksis dan dihormati oleh bangsa-bangsa lainnya kecuali dengan menggenjot spirit kerja keras kita pada titik optimum dan maksimal. Tidak ada pilihan lain bagi kita selain memaksimalkan semangat kita untuk memberikan kontribusi sekecil apapun yang bisa kita lakukan demi umat manusia. Kontribusi kita adalah benih yang suatu hari bisa dipetik hasilnya, meskipun bukan oleh tangan kita.

Mainkan seluruh potensi kita, up grade energi semangat melayani, dan tampakkan pada dunia bahwa Islam dan kaum muslimin adalah manusia kerja yang mengharapkan ridha Tuhannya. Lalu katakan : Labora ergo sum (aku bekerja maka aku ada).



Tiga Ciri Orang Ikhlas

Tiga Ciri Orang Ikhlas


Oleh: Mochamad Bugi

Jika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.

Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”

Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan- Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.

Buruknya Riya

Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Ciri Orang Yang Ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.



Sikap Mengecilkan Dosa

Sikap Mengecilkan Dosa
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebagian orang, mempersepsi dosa kecil sebagai dosa yang bisa diremehkan. Bahkan mereka tidak merasa berdosa ketika melakukannya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
لا صغيـرة مع الاصـرار و لا كبيرة مع الاستغـفار

"Tidaklah dipandang dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus dan tidaklah dipandang dosa besar suatu kesalahan yang diikuti dengan istighfar." (Nabi Muhammad Saw)

Sebagai makhluk moral yang dianugerahi akal dan kalbu manusia menduduki posisi mulia di antara makhluk-makhluk lain. Akan tetapi dalam bersikap atau berprilaku, demi kepuasan diri sendiri, seseorang terkadang menempuh cara-cara yang tidak selaras dengan keluhuran akal dan kalbunya dan martabat kemanusiaannya. Antara lain ditunjukkan pada sikapnya dalam memandang kehidupan dan kematian sebagai realitas yang niscaya.

Dalam sebuah doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw dilukiskan bahwa kehidupan adalah momentum bagi manusia untuk menghimpun bekal kebaikan buat dirinya sedangkan kematian adalah momentum pembebasan dari segala keburukan. Ironisnya manusia sering tidak proporsional dalam memandang keduanya, bahkan terkadang menempuh sikap yang kontradiktif. Yaitu menjadikan kehidupannya sebagai momentum penghimpunan dosa dan kesia-siaan dan kematiannya tidak menjadi momentum pembebasan bahkan sebagai momentum pembebanan yang sarat dengan keburukan.

Bisa jadi cara-cara kontradiktif itu menyebabkan dirinya terjerembab ke dalam posisi hina. Seolah-olah potensi akal, kalbu, dan kebebasannya menjadi tumpul untuk sekedar dapat membedakan dan memilih secara tepat antara yang benar dan yang salah atau antara yang menyelamatkan dan yang mencelakakan.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS, al-A’raf [7]: 179)

Kenyataan seperti itu boleh jadi mengindikasikan salah satu kelemahan eksistensialnya, terutama kelemahan biologisnya, yang dinyatakan oleh Sang Penciptanya sendiri. “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS, al-Nisa [4]: 28).

Menurut Erich Fromm, kelemahan itu antara lain merupakan perwujudan dikotomi-dikotomi eksistensial yang melingkupinya. Dikatakan pula bahwa manusia memiliki kutub positif dan kutub negatif yang mewakili realitas konkret yang mempengaruhi situasi kemanusiaannya.

Kelemahan manusia antara lain ditunjukkan pada ketidakmampuannya dalam memenuhi kebutuhan dirinya yang tanpa batas. Hal itu diciptakan dengan sengaja agar ia mengerti dan sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa dunia ini adalah tempat tinggalnya yang sementara.

Dalam satu sisi kesadaran itu dapat mencegah dirinya terjerembab ke dalam dominasi sifat tiranik. “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS, al-‘Alaq [96]: 6-7).

Di sisi lain, kesadaran itu dapat pula menumbuhkan kesadaran yang lain bahwa dirinya memiliki peluang untuk berusaha meraih kelebihan derajat pasca kehidupan di dunia ini dan selanjutnya ia bekerja keras mempeoleh penyelesaian baru dan peningkatan kualitas dirinya hingga mencapai martabat tertinggi, yaitu taqwa.

Cara-cara kontradiktif yang ditempuh manusia antara lain ditampakkan dalam persepsi, sikap, dan perbuatannya terhadap sesuatu yang oleh agama dinyatakan sebagai dosa. Manusia dalam menyikapi dosa-dosa, baik dosa besar, apalagi dosa kecil, sangat beragam. Keragaman itu jelas mencerminkan perbedaan dalam mempersepsi sebuah perbuatan dosa serta suasana batin yang membentuknya.

Sebagian orang, mempersepsi dosa kecil sebagai dosa yang bisa diremehkan. Bahkan mereka tidak merasa berdosa ketika melakukannya. Akibatnya tidak sedikit di antara mereka yang terus melakukannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sebaliknya orang-orang yang telah mencapai kemajuan spiritualnya yang tinggi sangat menghindari segala sesuatu yang berbau dosa bahkan sesuatu yang tidak patut sekalipun.

Sesungguhnya persepsi, sikap, dan prilaku seseorang yang meremehkan dosa-dosa kecil mengandung tiga kesalahan. Kesalahan pertama adalah bersifat substansial, yaitu persepsi dan sikapnya terhadap dosa kecil yang seolah-olah bisa diremehkan yang menyebabkan dirinya terus-menurus melakukannya tanpa merasa berdosa.

Bukankah ketika kita melakukan dosa pada hakikatnya sedang menyalahgunakan hakikat karunia kebebasan kita sebagai makhluk moral? Kesalahan kedua adalah bersifat normatif, yaitu ketidakpeduliannya kepada siapa dirinya berdosa.

Bukankah ketika kita melakukan dosa, sekecil apa pun dosa itu, pada hakikatnya kita sedang melakukan pembangkangan terhadap kehendak Yang Maha Mulia, Maha Agung, dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?

Kesalahan ketiga adalah bersifat kesejarahan, yaitu membebani perjalanan jauh kita menuju Allah dengan beban sejarah berupa lumuran dosa. Bukankah para malaikat penjaga diberi tugas khusus oleh Allah swt untuk mencatat setiap amal perbuatan, ucapan, bahkan niat yang terbersit dalam hati setiap manusia?

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS, al-Infithar [82]:10-12

Ketiga kesalahan tersebut bisa menenggelamkan seseorang ke dalam lumpur dosa disebabkan kelemahan dan ketidakmampuan mengawal dirinya dari melakukan maksiat. Sedangkan ketidakmampun itu jika dibiarkan tanpa upaya penguatan akan mendorongnya melakukan dosa-dosa besar. Rasulullah Saw bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil karena apabila ia terkumpul pada diri seseorang lambat-laun akhirnya ia akan membinasakannya.”

Salah satu bentuk kebinasaan yang paling tragis, sebagai akibat meremehkan dosa kecil, ialah keterjerembaban dalam tragedi yang oleh Rasulullah Saw disejajarkan dengan “tragedi belalang” seperti diungkapkan dalam sabdanya, “Perumpamaanku dengan kamu sekalian seperti seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu kupu-kupu dan belalang-belalang berjatuhan ke dalamnya sedang laki-laki itu berusaha menghalanginya agar tidak terjerembab ke dalamnya. Aku (Rasulullah Saw) memegangi ujung-ujung kain kalian agar tidak terjerembab ke dalam api akan tetapi kalian cenderung melepaskan diri.” (HR, Muslim).

Istighfar, memohon ampun, sehubungan dengan dosa yang dilakukan manusia, termasuk dosa kecil, adalah sikap yang tepat buat kelangsungan eksistensinya sebagai makhluk yang memikul beban amanah ibadah dan risalah. Ia adalah tangga bagi peningkatan martabat kemuliaannya dan jalan keluar bagi pembebasan dirinya dari kemungkinan mengalami “tragedi belalang”..

Sebab kecenderungan bertaubat menyerah diri kepada Allah dan memohon ampunan-Nya adalah sifat utama yang dimiliki oleh orang-orang beriman. “Orang-orang yang apabila mengerjakan perbauatan keji atau menganiaya diri sendiri lantas mereka ingat akan Allah lalu memohon keampunan terhadap dosa-dosa mereka- dan siapakah pula yang berkuasa mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedangkan mereka mengetahui.” (QS, Ali Imran [3]:135)

Semakin cepat kesadaran seseorang terhadap kesalahan dan semakin cepat memohon ampun kepada-Nya, semakin cepat pula penyembuhannya. Menurut Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al-Hasanah wa al-Sayyi`ah istighfar yang paling utama adalah tertuangnya kesadaran dalam bentuk pengakuan seperti diungkapkan dalam doa yang disebut sayyidul istighfar. “Aku mengaku nikmat-Mu yang tercurah kepadaku dan aku mengaku atas dosa-dosaku.”

Kesadaran itulah yang mendorong seseorang merespon seruan Allah agar berlomba-lomba menuju ampunan-Nya “Dan berlomba-lombalah kamu kepada keampunan dari Tuhan kalian dan berlomba-lombalah mencari surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS, Ali Imran [3]: 133).

Semakin dalam kita menyelami dan menghayati ampunan-Nya, semakin terbuka kebijakan dan kepuasan dalam ampunan-Nya.

Dalam al-Qur`an, Allah Swt seringkali menggandengkan tauhid dengan istighfar. Hal itu jelas menunjukkan bahwa istighfar merupakan refleksi kesadaran diri seseorang akan Tuhannya Yang Esa dan Maha Kuasa, yang harus disembah dengan setulus-tulusnya.

“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS, Muhammad [47]: 19).

“Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya. Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS, Hud [11]: 2-3)

Memilih waktu yang tepat untuk memohon ampunan Allah Swt memiliki keutamaan tersendiri. Malam adalah saat-saat paling hening untuk khusyu’ dalam memohon ampunan-Nya dan saat itu pula Allah membukakan rahmat-Nya.

“Tiap malam Allah swt turun ke langit dunia hingga sepertiga malam terakhir dan berfirman: barangsiapa yang berdoa maka Aku mengabulkannya, barangsiapa yang meminta maka Aku akan memberinya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya." (HR, Bukhari)

Dengan terbukanya kebijakan dan kepuasan dalam ampunan-Nya pada diri seseorang, ia akan semakin sadar akan rahmat dan kemurahan-Nya yang menyebabkan dirinya semakin yakin atas karunia kemudahan yang akan diraih mengiringi ampunan-Nya. "Barangsiapa membiasakan istighfar maka Allah menjadikan jalan keluar dari segala kesulitannya, memberi kemudahan dari segala kesusahannya dan melapangkan rezeki yang tidak ia duga." (HR, Abu Daud).

Oleh sebab itu Rasulullah Saw sendiri selalu beristighfar dan mengamalkannya terus menerus kendatipun Allah swt sudah mengampuni dosanya baik yang telah lalu maupun yang terkemudian. Bahkan dalam hadis riwayat Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah tidak kurang memohon ampun kepada Allah 70 kali setiap harinya.

Wallahu A’lam.